Copyright © Goresan Tinta Ela
Design by Dzignine
Kamis, 26 Maret 2015

Kadang disebut "Testimoni"



 







Segitu aja dulu, yang lain malu-malu mau kasih testimoni, padahal aku gak ngigit. Salam manis dari cewek manis, Muah.
Rabu, 25 Februari 2015

CARA ORDER BUKU CIPCI

CIPCI

Harga

Rp 35.000,-

Penulis:
Ela Sri Handayaningsih

ISBN:
978-602-1203-84-2

Penerbit: META KATA
Pemerhati Aksara: Risty Arvel
Pewajah Sampul: de A media kreatif
Penata Letak Isi: de A media kreatif
===================================
 
Order:

via SMS ke 081907820606

‪#‎CIPCI‬#Nama#Alamat#JumlahOrder

via WEB di www.anrmart.com

Sinopsis:
  • Bimbingan rutin dengan membawa berkas yang sudah direvisi kepada Dosen Pembimbing Skripsi.
  • Bimbingan rutin dengan dokter untuk memantau kesehatan. Ingat, kesehatan adalah hal terpenting. Jika Anda tidak sehat, maka teman Anda akan wisuda lebih dulu dari Anda.
  • Bimbingan rutin dengan orangtua. Doa orangtua adalah segala-galanya doa terpenting dalam hidup. Dan, uang saku adalah segala-galanya modal terpenting dalam skripsi.
  • Bimbingan rutin kepada Pak Kiai, Pastur, atau ahli agama lainnya. Setidaknya saat Anda kalah dan tumbang saat mengerjakan skripsi. Anda sudah berbekal amal untuk hidup di akhirat nanti.
  • Bimbingan rutin kepada orangtua dari orang yang Anda cintai. Hmmmm sebenarnya gue gak mau nulis ini karena gue juga masih jomblo, tapi apalah daya. Sesungguhnya kesombongan Anda terhadap toga tiada berarti tanpa pendamping yang bisa dipamerkan saat wisuda. Dan, memiliki pendamping tanpa restu orangtuanya adalah hubungan semu semata. Uwo uwo….
Harap dibaca agar kalian tahu banyak celotehan yang garing dan tidak lucu. Selamat membaca, jangan lupa ketagihan.


CARA ORDER BUKU RAHASIA

Rahasia

Harga

Rp 40.000,-

Penulis:
Ela Sri Handayaningsih

ISBN:
978-602-1203-85-9

Penerbit: META KATA
Judul: Rahasia
Penulis: Ela Sri Handayaningsih
Pemerhati Aksara: Risty Arvel
Pewajah Sampul: de A media kreatif
Penata Letak Isi: de A media kreatif
===================================
 
Cara Order:

via SMS ke 081907820606

‪#‎RHS‬#Nama#Alamat#JumlahOrder

via WEB di www.anrmart.com

Sinopsis:

Wanita itu lagi, tersenyum lagi, memberiku makanan yang tak enak, menyuruhku istirahat, seakan-akan dia lupa bahwa aku sudah beristirahat hampir satu bulan di tempat ini. Aneh. Aku pun mencoba tersenyum, meski dia tak mampu melihatnya. Dengan luwes, dia menutup korden jendela kamarku, membenarkan selimutku, dan pergi meninggalkan aku yang pura-pura tidur. Di luar sana, dia dan teman-temannya akan merubah wajah penuh senyum mereka menjadi wajah penuh kejijikan pada pasien-pasiennya. Kesal dengan kotoran kami, kesal dengan bau kami, kesal dengan semua pengorbanan mereka untuk kami. Hahaha, bukankah kita harus mewajarkan itu? Terima kasih uang, tanpa kamu, Ayahku tak mungkin mampu memperbudak manusia.

***

Tentang hidup dan kehidupan, tentang hadirnya bahagia dan sapaan sang duka, tentang rizeki, jodoh, kelahiran, dan kematian. Bukankah hidup adalah sebuah rahasia yang harus diperjuangkan?
Selamat menikmati setiap rahasia yang tergores dalam buku ini.



Minggu, 01 Februari 2015

Basa-basi



Waktu selalu bergerak maju. Tak akan ada yang berubah jika kamu tak ikut bergerak. Diam dan berdoa bukan jalan keluar untuk meraih apa yang kamu mau. Berusaha dan berdoalah. Jangan anggap mereka yang sukses mendapatkannya dengan mudah.
Jikapun ada yang mendapatkannya dengan mudah. Tak akan bertahan lama jika dia tak berjuang keras untuk mempertahankan apa yang dia dapatkan. Maka, bangun dan raihlah apa yang harus kau raih!


***

Orang hebat adalah mereka yang tetap semangat, meski dokter telah menjelaskan tentang umurnya yang tak mungkin bertahan lama. Bukankah hidup dan mati seutuhnya ada di tangan Tuhan?
Semoga, mereka, para pejuang yang berkawan dengan lawan, para manusia yang bersahabat dengan kematian, para makhluk yang berteman dengan takdir, mereka, orang-orang hebat yang tak pernah lelah melisankan doa, berharap segala yang terbaik, percaya akan kesempurnaan Tuhan atas segala skenario yang Dia tuliskan padanya, termasuk hidup dan matinya, diberikan senyum dan kebahagiaan yang indah di akhir perjuangan mereka. Amin.

***

Tak perlu menjadi tua untuk tahu pilihan mana yang harus kau pilih. Tapi, butuh masukan dari orang tua sebagai pertimbangan dari setiap keputusan yang harus kau ambil. Meski, tak selamanya masukan itu benar, yang jelas, pengalaman mereka jauh lebih banyak dari kita yang baru mau melangkah.
Selamat pagi, apapun keadaan hati kalian, tersenyum jelas-jelas mampu membuat hati orang-orang lebih adem. Maka, bahagialah.

***

Terlalu sering dikecewakan manusia membuat kita kebal, antara 'ah sudah biasa' dan 'akan ada kecewa-kecewa lagi di depan sana'. Mungkin, kita sering mengecewakan, makanya kita dikecewakan. Lagian dalam hidup yang mengecewakan bukan cuma manusia, sistem politik, harapan bahkan diri sendiri saja kadang bikin kecewa. Positif thinking ajalah, pasti ada hikmahnya.

***


Yogyakarta, 2 Februari 2015
Ela Sri Handayaningsih
Selasa, 27 Januari 2015

Usai.

Senja tak lagi tentang kita, semua telah usai.

Ada perih yang terasa, kala tetes demi tetes air mata mulai tercipta.
Harapan tak lagi tentang bahagia, kini usai sempurna membingkai kecewa.
Ada pilu yang membiru, kala senyum tak lagi mampu menutupi luka.
Semoga kamu bahagia, siapapun pasanganmu nanti.

Maaf, jika lisanku terlalu sering mencipta lara.
Maaf, jika sindiranku terlalu sering membuatmu terluka.
Maaf, maaf, dan maaf untuk semua kurangku yang terlalu merepotkanmu.

Terimakasih untuk tujuh bulan yang membahagiakan.
Terimakasih untuk sabar yang kau asah dengan baik.
Terimakasih untuk semua yang kau beri dengan ikhlas.

Cinta kini menjumpai jawabnya.
Usai bukanlah alasan bagi air mata untuk terus tercipta.
Semoga kita, tetap menjadi pejuang meski telah menjadi aku dan kamu.

Bahagialah, Tuan.

***
Senja tak lagi indah, mendung menutupnya dengan sempurna. Hanya bentangan sawah yang tak lagi terlihat hijau, malam mulai datang. Ada gelisah yang coba ku kendalikan, meski aku tahu, aduan rasa dalam batin ini mampu meledak kapanpun alam memanggilnya. Aku diam, Mamak diam. Hanya suara mesin motor dan gesekan ban dengan krikil yang beradu menghiasi senja di kampungku.

“Mak, dia gak akan datang Februari nanti.”
“Hah? apa?”
“Fahri tak akan datang.”

Hening. Kami sama-sama diam. Perlahan  ada hangat yang menyentuh pipiku.  Mataku memanas. Cairan itu terus mengalir tanpa mampu ku hentikan. Ada gelisah yang coba ku kendalikan, berulang kali ku coba mengatur napas, berharap tangis gagal menggetarkan suaraku. Aku tak ingin mamak tahu putrinya begitu lemah saat ini. Pandangku lurus ke depan, mencoba tetap fokus. Gelap mulai ikut campur dalam perjalananku menuju toko terdekat. Membeli stok jualan mamak.

“Kenapa?” tanya mamak, pelan. Aku tahu beliau kecewa, mungkin, sangat kecewa.
“Putus, tadi siang.”

Ada cekikan yang menahan pita suaraku untuk berkata. Aku harus lebih pandai mengontrol emosiku, sekarang.

“Masalahnya apa?” mamak bertanya lagi.

Aku hanya menggeleng, tenggorokanku belum siap diajak berbicara.

“Pantas saja akhir-akhir ini HPmu jarang berbunyi, biasanya bangun tidur langsung bunyi, kaya alarm.”

Aku mencoba tersenyum. Sialnya, air mataku semakin meningkat.

“Kamu tidak menyakitinya, kan?” tanya mamak, lagi.

Aku masih diam, menaikkan kedua bahuku sebagai jawaban. Semoga mamak paham artinya.

“Kalau memang keputusan itu yang terbaik buat kalian, ya sudah. Mau bagaimana lagi. Yang terpenting adalah silaturahmi tetap terjaga. Jangan gara-gara sudah tidak pacaran trus jadi musuh.”

Kembali ku tarik napas, bersiap untuk berkata.

“Akhir-akhir ini, dia susah dihubungi. Awalnya, aku coba untuk mengerti. Mungkin dia sedang sibuk, apalagi, kemarin baru ada masalah sama usahanya. Sudah satu bulan ini dia gak ngajar, Mak. Cuti buat ngurusin bisnis batunya.”

Aku diam, mencoba mengatur napas yang mulai tak berkawan. Mamak masih diam, menunggu cerita selanjutnya.

“Aku bingung, Mak. Dia terlalu sering menyepelekan sesuatu. Bilang ini, bilang itu, bla bla bla. Dulu aku diam, aku pikir dia sudah cukup dewasa untuk merinci segala sesuatu yang harus dia lalui untuk mendapatkan apa yang dia katakan. Aku pikir, dia sudah memikirkan matang-matang dan merencanakan segala sesuatu yang dia katakan.”

Aku kembali diam. Mamak masih diam, atau mungkin beliau sedang menahan tawa mendengar putri kecilnya mampu berkata seperti itu.

“Masih pacaran saja, dia sudah sering membuat aku berpikir bahwa menikahiku adalah beban terberatnya. Dia bilang, tidak usah dipikirkan, biar aku yang memikirkannya. Tapi, satu minggu ini saja dia sudah dua kali bilang ‘sekarang aku bebaskan kamu, terserah mau bagaimana di sana’.”

Aku sudah tidak menangis, hanya kesal yang beradu dengan amarah.

“Kamu tidak berkata-kata yang membuatnya sakit hati, kan?” tanya mamak, pelan.

“Tadi pagi aku minta maaf, sudah sering menuntut ini itu. Dia bilang ingin cerita. Aku sms gak dibales, aku telfon gak diangkat. Kadang satu hari sama sekali gak ada balasan dari sms ataupun telfonku. Sudah nyaris satu mingguan lebih dia seperti itu. Paling kalau aku sms dibalesnya ‘nanti aku telfon’. Aku tunggu sampe tengah malam, dia gak telfon. Beberapa hari ini justru nomernya gak aktif, hilang katanya. Dia pakai nomer bapaknya, aku kan jadi takut kalau-kalau waktu sms yang pegang nomer itu bapaknya. Kemrin Mamak tahu kan? waktu jam satu aku telfonan, dia nginep rumah temennya itu.”

“Hmmm”
“Makannya kemarin pas Bapak tanya, besok pas dia ke sini mau gimana, aku gak jawab. Aku takut dia gak ke sini. Dia udah sering bilang mau ke sini dari bulan Oktober, sampe sekarang belum juga dia datang. Mungkin akan berbeda saat dari awal dia bilang dan menjelaskan baik-baik bahwa untuk ke sini membutuhkan persiapan yang tidak main-main. Sayangnya, dia terlalu menyepelekan segala sesuatu Mak. Bahkan komunikasi saja dia sepelekan.”

Aku diam, mencoba mengatur napas kembali. Tak lagi tahu harus menangis atau marah. Kecewa membuatku kacau.

“Ini udah putus yang entah ke berapa kalinya. Capek Mak pacaran putus nyambung, Win aja udah mau nikah, masa iya aku masih asik main pacar-pacaran.”

Mamak mendengus.

“Mungkin aku yang terlalu kekanak-kanakan, atau dia yang belum siap memimpin seorang wanita. Aku harus belajar dewasa, semoga dia juga belajar bagaimana memimpin dirinya, biar saat punya istri nanti, tidak mudah berjanji dan berkata. Dia butuh belajar bahwa apa yang harus dia ucapkan haruslah dipikirkan terlebih dahulu. Biar gak ngecewain banyak orang kaya sekarang. Aku bingung ngomong ke Simbok sama Bapaknya gimana Mak.”

Aku diam, ada kesal yang beradu dengan sabar. Mamak diam, entah apa yang beliau pikirkan sekarang. Rencana bulan Februari nanti, harapan semua orang. Ah. Sudahlah. Sesekali menangis tak akan jadi masalah. Mataku tertuju pada kantong plastik berisi kebaya. Dalam hati riuh mendesis ngilu. Sekarang bukan waktu yang tepat, Tuhan lebih tahu kapan pernikahan akan menjadi indah bagiku, keluargaku dan pasanganku. Tuhan jauh lebih tahu, apa yang terbaik bagiku. Semoga kita, tetap menjadi pejuang meski telah menjadi aku dan kamu. Bahagialah, Tuan.




Purworejo, 27 Januari 2015
Ela Sri Handayaningsih