Copyright © Goresan Tinta Ela
Design by Dzignine
Jumat, 21 September 2018

Memupuk Semangat.


Hujan.

Beberapa hari ini hujan kembali bernafsu pada Bumi, barangkali doa cebong-cebong didengar Tuhan.

Hi. Sudah lama sekali ya, tepatnya setelah Tumblr diblokir, saya tidak menulis curhatan galau lagi. Terakhir memosting adalah curhatan tentang bakso, sengaja kembali menulis curhatan konyol, tapi ternyata saya sendiri tidak tertawa membacanya. Saya harus akui bahwa saya tidak cukup berbakat dalam membuat lelucon. Saya juga harus akui bahwa sisi romantis saya pas-pasan. Apalagi pengetahuan saya tentang sejarah, politik, pengetahuan alam, dan sosial, benar-benar sangat sedikit. 

Saya terjatuh pada kondisi di mana saya yakin, saya tidak cukup berbakat untuk menulis. Menyedihkan ya?


Hari ini, saya kembali memberanikan diri untuk menulis. Sebuah curhatan seperti biasa, cerita-cerita yang dulu sering saya posting di Tumblr. Hujan berhasil mengundang kenangan dan mengingatkan bahwa saya tidak pernah menulis untuk menjadi komedian, menjadi blogger ternama, menjadi jurnalis atau bahkan politisi. Itu kenapa saya pernah sangat asik menulis di Tumblr, sebab saya menulis hanya karena saya ingin berbagi cerita. Sisanya, terimakasih pada semua yang menyukai dan maaf apabila ada yang kurang berkenan.

Saya akan awali curhat kali ini dengan, lagi-lagi, kisah tentang saya dan status pengangguran saya ini. Jika pertanyaan “kapan lulus?” pada mahasiswa tingkat akhir adalah keramat. Maka pertanyaan “sekarang di mana?” pun keramat bagi pengangguran.


Desember 2017 adalah bulan keramat, saya memulai masa menganggur yang sangat panjang ini di bulan tersebut. Selama lulus 2015 lalu, saya tidak pernah betah nganggur sampai lebih dari tiga bulan. Hampir setiap hari memiliki kegiatan, berdiam diri di rumah atau kosan terasa sangat sangat sangat membosankan.

Tapi kali ini, hampir satu tahun saya menganggur. Betah? Saya kira meski sering mengeluhkan tidak punya uang, nyatanya kali ini saya betah menjadi pengangguran. Jika tidak betah, mungkin saya akan menjual leptop, hasil menabung saya selama satu tahun lebih ini, untuk modal mencari kerja di Kota. Nyatanya, saya menikmati waktu di mana Mamak pergi menjual sayur keliling Kampung, Bapak bekerja, dan dapur menjadi milik saya seutuhnya. Menggunakan alat-alat masak dan bahan-bahan seadanya, saya mencoba mengisi hari-hari saya dengan hal menyenangkan di Dapur. Di temani kucing-kucing tersayang, saya menghabiskan waktu menganggur dengan sangat menyenangkan. Tidak tahu diri ya? Hehehe.

Bagi kalian yang mengikuti tulisan saya di Tumblr dulu, mungkin akan bertanya “apa tidak tertekan berada di rumah, menjadi pengidap depresi sekaligus pengangguran, di usia yang pasti akan digunjingkan tetangga sebab belum menikah?” jawabannya adalah “tentu saja saya tertekan”. Tapi jika dibandingkan saat saya bekerja dulu, ternyata mendapatkan tekanan batin dari keluarga lebih bisa saya maklumi dari pada mendapat tekanan batin dari orang lain. Seperti apapun Bapak dan Mamak saya, seperti apapun Simbok saya, seperti apapun saya saat mengeluhkan beberapa sikap mereka, saya menyayangi mereka dan saya yakin mereka menyayangi saya melebihi kasih sayang teman-teman saya di luar sana. 

Saya pernah berada di titik terendah hidup saya, di mana nyaris tidak ada satu pun teman yang mau mengerti dan memahami kondisi batin saya, banyak yang memilih cuek, menjauhi, bahkan mungkin menertawakan di belakang saya. Saat itu keluarga adalah orang-orang yang mendekat, mencari tahu ada apa dengan saya, dan mencari jalan keluar dari kemelut batin yang saya alami.



Keluarga adalah obat, tapi sepertinya terlalu banyak mengosumsi obat juga tidak baik bagi masa depan kan? Hahaha.

Setelah Agustus kemarin sempat freelance di salah satu perusahaan, bertemu rekan kerja yang seumuran, kembali mengalami hal-hal menyenangkan di tempat kerja, menjadi pengangguran kembali terasa berat. Pikiran saya kembali mengundang pertanyaan-pertanyaan yang membuat jiwa saya terusik:

  1. Jika kamu terus menerus berada di rumah, bagaimana mau bertemu jodoh? Bagaimana mau mendapatkan penghasilan? Kamu pikir menjadi makhluk hidup dan bertambah umur, tak membuat kebutuhanmu pun ikut bertambah? 
  2. Nah! Ngomongin umur, sudah berapa umurmu? Mau sampai kapan menganggur? Lihat! Teman-teman kamu sibuk bekerja dan mengisi waktu dengan hal positif, kamu? Menghabis-habiskan tabungan untuk membuat makanan yang tidak selalu seperti ekspektasimu!
  3. Ngomongin makanan, apa kamu tidak ingin memiliki penghasilan yang cukup agar bisa memasak lebih banyak macam masakan lagi? Lebih banyak alat memasak lagi? Gak pingin beli blender dan teflon?

dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menggelisahkan. Membuat keinginan untuk bekerja kembali semakin kuat.

Sebenarnya, saya sudah menerima satu tawaran kerja dari kenalan. Saya kira, dari sekian orang yang menawarkan pekerjaan, beliau adalah orang yang paling mengerti kondisi batin dan watak saya. Saya juga sudah menceritakan pengalaman buruk saya tentang tawaran pekerjaan dari kenalan di medsos. Saya punya harapan, hal menyebalkan tidak kembali saya alami saat menerima tawaran dari beliau. Waktu berjalan dan harapan terlanjur menguat, namun kapastian tak kunjung datang. 

Sayangnya kesabaran saya yang masih sebiji jagung, akhirnya bersatu dengan kondisi di mana bosan nganggur semakin menjadi-jadi. Saya sempat menyesal menerima tawaran dari beliau, tapi akhirnya saya memilih untuk menjadikan semua itu pelajaran dan berlatih ikhlas. Saya pernah kehilangan silaturahmi yang baik dengan seseorang karena pekerjaan, saya tidak ingin hal serupa kembali terjadi. 


Hujan mulai reda.

Saya tidak tahu kapan akan kembali bekerja, di mana, dan sebagai apa. Sebagai seseorang yang bisa dikatakan tidak pernah betah dalam bekerja, saya berharap setelah ini saya berhasil menghilangkan kesan buruk tersebut dalam diri saya. 

Menjadi lajang di usia yang bisa dikatakan siap untuk menikah, seringkali terasa menyedihkan. Tetapi menjadi lajang sekaligus pengangguran di tengah masyarakat yang lebih sering nyinyir dari pada memberikan dukungan, merupakan beban hidup yang kadang terasa sangat menyebalkan.

Meski semua yang kita alami harus kita syukuri, juga harus kita yakini akan ada hikmah di baliknya, semoga kita semua lebih memilih untuk memberi semangat kepada mereka yang sedang merasa sulit, dari pada menilai buruk mereka yang sedang mengeluh.

Hujan reda, matahari kembali mengintip.

Sampai di sini dulu curhatan saya untuk hari ini. Semoga saya dan kalian tidak pernah kehabisan semangat dan harapan. 

Selamat berjuang, Barisan Para Pengangguran!






Pituruh, 20 September 2018

Gambar by Google
Sabtu, 09 Juni 2018

BAKSO SEMLENGET!


Hallo, apa kabar? Kalian sehat? Baguslah kalau begitu.

Maaf gak pernah kasih kabar, bukan karena gue gak peduli sama kalian, gue cuma mau kasih kalian waktu buat kangenin gue. Tapi kalau ternyata kalian tetep gak kangen gue, ya gak apa-apa sih. Gue udah biasa kok dibikin kecewa sama harapan sendiri.

Jujur nih, setelah sekian lama gak nulis, rasanya canggung mau bikin postingan baru di blog ini. Tapi syukur alhamdulillah di bulan yang suci ini, Tuhan kasih hidayah yang bikin gue berani mbacot di sini lagi, tak peduli masih ada yang mau membacanya atau pun tidak. 

Hmmmmm. Gue bohong. Gue masih berharap ada yang mau baca tulisan gue, segaring apapun itu.

 Sebelumnya, gue mau nanya, kalian semua yang baca postingan blog gue manusia tulen kan? Atau ada di antara kalian yang bukan manusia? Gue tanya beneran nih!

Berhubung tulisan gue kali ini agak kasar, gue takut akan ada pihak-pihak yang terluka hatinya. Jujur gak ada niat dari gue buat menyakiti pihak mana pun, tapi bidadari juga lumrah salah. Sebagai hamba Allah, gue sadar gak bisa selalu benar. Tapi, karena sebelum ini alam semeta tahu gue selalu benar, barangkali sekaranglah saatnya gue melakukan kesalahan. 

Kalian tahu nyamuk? Iya, dia hewan. 
Menurut kalian, hewan punya kemampuan membaca gak ya? Gue bener-bener takut kalau ternyata pembaca blog ini tidak semua manusia. Siapa tahu, ternyata tanpa manusia tahu, hewan pun mempelajari gaya hidup manusia termasuk belajar membaca tulisan manusia dan belajar bahasa yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Horor gak tuh? Gila dah! Gue belum siap mental untuk mati mengenaskan oleh serangan nyamuk yang mengamuk, karena mereka membaca postingan ini. Sumpah, gue berharap semua yang membaca tulisan ini adalah manusia. 

Jadi gini, beberapa menit yang lalu gue pergi ke warung bakso untuk minta sumbangan. Berhubung gue malu ngomongnya, gue urungkan niat gue buat minta sumbangan dan beralih beli bakso di sana. Tik tuk tik tuk tik tuk tik tuk tik tuk. Gak dink, gue emang mau beli bakso. Gue plesetin biar lucu, tapi ternyata garing. Hehehehehehe.

Selayaknya orang beli bakso, gue bilang ke Si Abang “Bang, bakso dua, gak pake micin, ganti kasih sayang” lalu gue dan adik gue duduk. Menanti bakso dan adzan maghrib.
 
Semua masih baik-baik saja. Waktu berjalan, gue masih baik-baik saja. Walau sesekali kelepasan kentut. Detik berganti, menit demi menit berlalu, adzan maghrib pun tiba dan bakso belum juga datang.
 
Semua masih terkendali, walau produksi air liur gue meningkat 75% setelah setengah lebih pengunjung mulai mengunyah bakso dan mie ayamnya, tapi pesanan gue belum juga datang. Itu bakso macam jodoh aja, ditungguin gak ngerti ditungguin. Bikin kesal saja!
Setelah kurang lebih 2500 detik, akhirnya seorang lelaki menyapa dengan senyum yang manis. Taraaa! Pesanan datang! 

Mungkin begini rasanya saat jodoh datang setelah kita lama menunggu, macam melihat Abang Bakso membawa semangkok bakso dan es teh saat waktu berbuka datang.

Sampai detik di mana gue nuangin kecap ke bakso, situasi masih terkendali. Pun di detik saat gue naroh gorengan ke bakso, semua masih baik-baik saja. Tapi, beberapa menit setelah sambal gue tuang ke mangkok. Serasa ditusuk dengan jarum suntik, tanpa dibius terlebih dahulu! Duar!

Macam orang kesurupan, gue angkat kaki sampai terdengar suara “GROK!”. Ya, lutut gue kepentok meja. Tak butuh waktu lama untuk serangan-serangan berikutnya datang. Gue menggelepak-gelepak di lantai dan berteriak, mata gue putih, gue kejang-kejang. Anjir!

Gak sampe segitunya juga sih, tapi sumpah demi kampret, tikus, dan precil yang sering dimakanin kucing gue. Rasanya macam kesetrum! Panas yang menyengat, bikin kaget dan bertubi-tubi. Gila!

Konyolnya lagi, melihat gue yang sibuk garuk-garuk macam monyet kutuan, adik gue makan dengan santai dan berkata “nyamuknya juga butuh darah buat buka puasa” pakyu! 

 Tapi anehnya, dari berpuluh-puluh orang yang makan di situ, cuma gue yang mengalami serangan dari nyamuk-nyamuk kerasukan setan itu. Gue berani sumpah, gue udah mandi!

Apa iya nyamuk juga puasa? Tapi, kenapa cuma gue yang digigitin? Apa mereka sengaja melakukan konspirasi jahat buat nglukai gue? Kalau mereka lapar karena puasa seharian, ngomong! Gue bagi bakso! Gak harus gini caranya kan?
 
Kalau gue ada salah sama mereka, gue minta maaf. Segala masalah ada jalan keluarnya kan? Kita bisa bicarakan baik-baik kan? Kenapa harus dengan cara melukai sih? Apa nyamuk-nyamuk itu sudah terpapar paham radikalisme? 

 Gak bisa dibiarin yang kaya gini ini! Cara kroyokan yang mereka lakukan ke gue itu jahat! Lebih jahat dari Rangga yang bertahun-tahun gak ngabarin Cinta! Lebih jahat dari iklan sirup yang disiarin siang-siangan di bulan ramadan! Lebih jahat dari dia yang ninggalin gue di saat gue lagi sayang-sayangnya!

Gue gak bisa nikmatin itu bakso. Rasa yang nempel di lidah, kalah menyengat dibandingkan sengatan nyamuk di kaki dan bagian tubuh gue yang lain. Ini serius, ini sengatan nyamuk terparah seumur hidup gue. Saking gedenya bengkak yang dihasilkan oleh gigitan nyamuk itu, orang rumah sampai terbahak melihat luka yang ditinggalkan oleh nyamuk-nyamuk radikal itu. Singkong rebus!

Sebagai penggila bakso, sore ini adalah pengalaman makan bakso terburuk dalam hidup gue. Bukan karena rasa dari bakso tersebut, boro-boro ngrasain, yang gue pikirin saat makan bakso itu adalah kapan habisnya, gue pingin pergi dari tempat itu se ce pat nya!
 
Gue gak tahu apa yang nyamuk-nyamuk itu rasakan saat melihat kulit gue. Mungkin sama seperti apa yang gue rasakan saat digratisin makan makanan enak sama temen, atau justru seperti dihadapkan dengan makanan rendah lemak yang level kenikmatan seperti makanan dengan kadar lemak tinggi. Gue benar-benar gak tahu!

Tapi satu hal yang pasti gue tahu, pesta makanan dan kebahagiaan yang mereka nikmati memunculkan dampak yang sangat tidak nyaman bagi hidup gue. Gue jadi penasaran, nyamuk-nyamuk ini di mana saat Tuhan bagi-bagi otak? Ckckckck, hidup tapi gak bisa mikir ya kaya mereka ini. Miskin empati!

Terimakasih sebab di antara banyak pilihan, kalian cuma mengigit gue, gue anggap itu sebagai pujian. Tapi jangan diulangi, atau gue laporin kalian ke polisi. Gue serius!

Saran buat kalian yang ingin bepergian di malam hari ke tempat yang berpeluang ada nyamuknya, pakailah pakaian tebal dan kaos kaki. Kalau perlu pakai hijab, cadar, jaket, atau apa pun yang bikin kulit kalian tertutup. Asal jangan pakai kain kafan dan dikasih jambul di kepala. Gak apa-apa sih, cuma gak kelihatan modis aja.
  
Begitulah kisah gue di ramadan kali ini, gak lucu dan banyak garingnya. Mungkin efek hati gue yang kering karena lama tidak disiram dengan kasih sayang dari lelaki pujaan.

Cukup sekian kisah tentang hidayah di bulan ramadan yang bikin gue tergerak pingin nulis di blog ini. Walau sama sekali tidak berfaedah, gue harap kalian tetap membaca sampai akhir biar gue gak sia-sia nulis cerita gak penting ini. Gue hanya bidadari yang tidak sempurna, jika postingan kali ini tidak lucu, semoga lain kali pun tidak lucu. Karena membuat lelucon itu berat, gue gak sanggup. Kecuali kalau lo mau menghabiskan sisa umur lo buat nemenin gue dalam tawa maupun lara. Hahahahahahahahaha.



 Sampai jumpa di lain waktu. Bye!




Foto: Google


Pituruh, 08 Juni 2018

Kamis, 25 Mei 2017

Cara Order Novel Saranghae



Judul              : Saranghae
Pengarang      : Ela Sri Handayaningsih
Ukuran           : 13 x 19 cm
Tebal               : vi + 162 halaman
Harga             : 40.000

PEMESANAN :
Ketik:  SARANGHAE# NAMA LENGKAP # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH # NO TELP
Kirim ke : 085103414877 / 0341-2414877 / WA ke 081213934770

SINOPSIS:
Kita tidak mampu mengubah masa lalu, kita juga tidak seharusnya terus menerus menangisi kenangan. Meski faktanya, berdamai dengan masa lalu tidak semudah yang Gayari Jamila bayangkan. Seorang gadis berumur 18 tahun ini dihadapkan pada perjuangan yang tidak seperti remaja seusianya. Ayahnya pergi dari rumah dan lupa kembali. Sedangkan ibunya meninggal dalam tragedi yang selalu dia yakini sebagai kesalahannya.

Lelaki bernama Kai yang merupakan personil dari Boyband EXO adalah salah satu tokoh dalam masa lalunya. Semua tentang Kai dan EXO selalu mampu membuka luka-luka yang ada dalam masa lalunya. Meski Gayari sulit berdamai dengan masa lalunya, Tuhan menempatkan Gayari dalam sebuah pekerjaan yang membuatnya bertemu teman-teman dengan perjuangan yang lebih berat. Salah satunya adalah haikal Asnan. Seorang laki-laki yang membantu Gayari berdamai dengan semua kenangan tentang Kai. Haikal mengajarkan sebuah pengertian baru tentang perpisahan kepada Gayari. Dari Haikal, Gayari tahu, bahwa tidak semua perpisahan itu menyakitkan.

Di negara tempat Kai dilahirkan, Gayari kembali dipertemukan dengan cintanya. Semua rahasia hidup Gayari ada di negara bernama Korea.  


Cara Order Buka Luka




Judul              : Luka
Pengarang      : Ela Sri Handayaningsih
Ukuran           : 13 x 19 cm
Tebal               : iv + 138 halaman
Harga             : 35.000

PEMESANAN :
Ketik:  LUKA# NAMA LENGKAP # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH # NO TELP
Kirim ke : 085103414877 / 0341-2414877 atau WA ke 081213934770

SINOPSIS:
Mataku terasa panas, ada sedikit tekanan yang mendorong bulir air mataku untuk menyembul keluar.

***

Aku mencintainya seperti aku mencintai ibuku sendiri, begitu dalam. Sangat dalam. Dia mencintaiku sedalam itu pula. Tapi sayangnya, cinta kami terlarang.

***

Dulu aku pikir, cinta itu sesuatu yang mulia. Sampai akhirnya waktu membuktikan, bahwa cinta adalah pembuat luka.